Jumat, 12 Oktober 2012

PACARAN, CINTA, dan SEKS : Adakah hubungannya ? ? ?

Ada, tentu ada. karena cinta, maka remaja pacaran, karena pacaran, akhirnya mereka berzina (berhubungan seks). memang berpacaran tidak selalu berarti seks, namun buktunya sebagian besar mengartikan pacaran dengan melakukan hubungan seks. cinta yang muncul dalam hubungan seks di luar nikah sifatnya semu.
mengandalkan hubungan padahal yang sifatnya semu tentu saja sangatlah lemah.pacaran yang berorientasi
pada seks akan mengganggu proses adaptasi karena dalam kancah seks semuanya tampak bagus-bagus saja. kedua pihak sama-sama memelihara yang manis-manis saja.

Dalam persoalan ini, lelaki biasanya lebih agresif. ibaratnya lelaki lebih mudah menancap gas dan selalu lupa mengijak rem, sedangkan perempuan biasanya masih bisa sadar dan ingat daratan ketika sang pacar sudah mulai lupa daratan. meski dituntut mengendalikan diri, namun denan kondisi serba boleh seperti itu pengendalian hampir mustahil dilakukan. coba bayangkan, seorang lelaki berduaan ditempat sepi bersama perempuan yang dicintainya.

Mereka bermesraan tapi diminta untuk tidak berlebihan dan bisa mengendalika diri. Bisakah ? ibaratnya anda naik sepeda motor dengan kecepatan 100 km/jam diposisi jalanan menurun kemidian kamu harus mengerem laju kendaraan padahal remnya saja kemu tidak punya. bukankah resiko terparahnya kamu masuk jurang atau menabarak pohon ? merek disi=uruh menahan diri, padahal gaya pacaran mereka dilakukan di tempat gelap, bebas gangguan, sepi dan remang-remang.

Islam sudah memperingatkan laki-laki dan perempuan yangbukan mahram untuk tidak menyepi berduaan karena yang ketiga adalah syetan. Rasul bersabda : "Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir, maka jangan sekali-kali dia bersendirian dengan seorang perempuan yang tidak bersama mahramnya, karena yang ketiga ialah syetan." ( Riwata Ahmad ).

Imam Qurthubi dalam menafsirkan firman Allah yang berkenaan dengan istri-istri Nabi, yaitu yang tersebut dalam surat Al-Ahzab ayat 53, yang artinya :
 "Apabila kamu minta sesuatu (makanan) kepada mereka (istri-istri Nabi), maka mintalah dari balik tabir. karena yang demikian tiu lebih dapat membersihkan hati-hati kamu dan hati-hati mereka itu." mengatakan : maksudnya perasaan-perasaan dari orang laki-laki terhadap orang perempuan, dan perasaan perempuan terhadap laki-laki.
Yakni cara seperti itu kebih ampuh untuk meniadakan perasaan-pereasaan bimbang dan lebih dapat menjauhkan dari tuduhan yang bukan-bukan dan lebih positif untuk melindungi keluarga.

Tatkala mata sudah bertamasya mengililingi dari ujung rambut hingga ujung kaki, bibir sudah mulai merayu, menyebut menjanjikan keindahan-kesenangan-kebahagiaan, tangan mulai berjalan-jalan melewati dan menapaki seluruh ruas tubuh si pacar, hatipun berdegup kencang, dan otak pun meradang kebingungan akankah melampiaskan hasrat yang terpendam? di saat itulah syetan membisika hati untuk cenderung pada kemaksiatan. melancarkan jurus-jurus sakti denga bertubi-tubi, tanpa ampun!, mencoba menjerumuskan hamba Allah yang sedang bermesraan. di posisi seperti inilah, remaja tidak kuat dan akhirnya melakukan perzinahan.

Ditambah lagi kemudahan-kemudahan yang disediakan masyarakat yang menganggap pacaran jenis ini sebuah kemjuan budaya. merek menyediakan alat-alat kontrasepsi berupa kondom, pil KB dan obat-obatan untuk mencegah kehamilan. mereka menyediakannya ecara gratis, atau sedikti membayar untuk mencegah AIDS. Subhanallah, mereka mencegah dampak, sementara perbuatannya sendiri malah dibiarkan.

Minggu, 07 Oktober 2012

DEVINISI IJMA'

Menurut istilah para ahli ushul fiqih adalah : Kesepakatan para mujtahid dikalangan umat islam pada suatu masa setelah Rasulullah SAW wafat atas hukum syara' mengenai suatu kejadian.Apabila terjadi suatu kejadian yang dihadapkan kepada semua mutjahid dari umat islam pada waktu kejadian itu terjadi, dan mereka sepakat atas hukum mengenainya, maka kesepakatan mereka itu disebut Ijma'. kesepakatan mereka atas satu hukum mengenainya dianggap sebagai dalil, bahwasannya hukum tersebut merupakan hukum syara' mengenai kejadian itu.

Dalam devinisi itu hanyalah disebutkan sesudah wafat Rasulullah SAW, karena pada masa hidup Rasulullah, beliau merupakan rujukan pembentukan hukum islam satu-satunya, sehingga tidak terbayangkan adanya perbedaan dalam hukum syar'i, dan tidak pula terbayangkan adanya kesepakatan, karena kesepakatan tidak akan terwujud kecuali dari beberapa orang

HAJI : KEBERANGKATAN SUKA RELA MENUJU ALLAH SWT


Para ulama mengatakan bahwa ketika kita melaksanak ibadah haji, sebenarnya kita meninggalkan pekerjaan, keluarga, dan tetangga untuk pergi. Kemana? Kia pergi menuju ke rumah Allah SWT.
Sebetulnya haji merupakan gladi resik ( latihan ) untuk kembali kepada Allah SWT. Haji adalah latihan kematian kita, karena kita meninggalkan tanah air, meninggaljan keluarga, meninggalkan tetangga dengan niat yang satu: ingin menemui Allah SWT.

Kita ingin bersimpuh dirumah-Nya yang suci. Kita ingin membasahi pipi kita dengan tangisanpermohonan ampunan dari Allah SWT.

Kita semua lahir di dunia ini. Jauh di lubuk hati kita,  kita sebenarnya mempunyai kerinduan untuk kembali kepada Allah SWT. Sebab kita berasal dari sana. Tanah air kita yang sejati berasal dari sana, yaitu berada pada Allah SWT. Karena itu, Allah disebut Al-Mashir. Dalam sebuah ayat Al-Qur’an, Allah berfirman, wailayyal mashir ( dan kepada-Ku lah kembalimu semua )

Menurut Ibnu ‘Arabi, dalam Al-Futuhat Al-Makkiyyah ( keterbukaan di Makkah ), kita akan kembali kepada Allah SWT dengan cara yang berbeda. Ada yang kembali dengan cara yang terpaksa, yang disebut ruju’ idhthirari. Setuju atau tidak setuju, kita semua kita semua akan kembali kepada Allah SWT. Dan itu yang kita sebut mati.

Ada pula cara kembali yang lain. Yaitu kita disuruh kembali kepada Allah dengan cara yang tidak terpaksa. Kita kembali dengan sukarela. Dan kembali seperti ini yang disebut dengan  ruju’ ikhtiyari . kembali seperti inilah yang dilakukan oleh para jamaah haji.

Akan tetapi –ini bukan menakut-nakuti jamaah haji– sekali lagi bayangkanlah ibadah haji adalah sebagai latihan untuk ruju’ idhthirari nanti. Sementara ini, dalam melaksanakan ibadah haji, kita kembali dengan sukarela untuk memnuhi panggilan Allah SWT.

Siapakah yang disuruh kembali  oleh Allah dengan perasaan senang hati ? Al-Qur’an menyebutkan mereka ini adalah nafsul muthma’innah, yaitu jiwa – jiwa yang tenang.
“Hai jiwa yang tenang. Kembalilah kamu semua kepada Tuhanmu. Tuhan kamu ridha kepada kamu dan kamu pun ridha kepada Tuhanmu”. ( kamu kembali dengan ridha dan Aku memanggilmu juga dengan ridha). “Maka masuklah ke dalam jama'ah hamba-hamba-Ku. Masuklah ke dalam syurga-Ku.” ( QS 89 : 27-30 ).

Kalimat di atas dimulai dari “masuklah ke dalam jamaah hamba-hamba-Ku”, dan baru sesudah itu “masuklah kedalam surga-Ku”. Inilah kenikmatan besar yang di anugerahkan Allah kepada para jamaah haji.

Haji merupakan latihan kematian. Haji memang merupakan cara berangkat menuju Tuhan dengan sukarela.

Bagi mereka yang di tinggalkan, yaitu orang – orang yang belum mampu untuk berangkat haji, ada satu riwayat di zaman Nabi SAW yang pantas di simak. Dahulu ada suatu rombongan menemui Nabi SAW. Seperti biasa Nabi menanyakan bagaimana keadaan meraka. Lalu kabilah itu menjawab dengan bercerita penuh kegembiraan. Mereka bercerita kepada Nabi bahwa ada kawannya disana yang kerjanya hanya beribadah saja. Mungkin kita pun senang mempunyai tetangga yang shalih seperti itu. Kita senang menceritakan keshalihannya karena kita sendiri tidak bisa seshalih dia.

Mendengar cerita itu, rasulullah SAW bertanya, “lalu siapa yang mengurus keluarga, anak-anak, dan istrinya?” Rombongan tersebut menjawab, “Ya, kami ini ya Rasulallah.” Mendengar hal itu, Rasulullah kemudian berkata, “kamu lebih baik daripada dia.” Mengapa tetangga itu lebih baik daripada orang shalih yang melaksanakan ibadah haji? Karena berkat tetangganyalah dia bisa beribadah dengan tenang, lantaran keluarga yang ditinggalkannya di urus oleh tetangganya.

Akhirnya, ada sebuah do’a yang bisa diamalkan untuk setiap orang yang mau naik haji. Do’a itu disunahkan untuk dibaca sesudah sholat fardhu dibulan Ramadhan. Do’a itu berbunyi demikian.
“Ya Allah, karuniakanlah kepada kami pada tahun ini, kesempatan berhaji ke rumah-Mu yang suci.pada tahun ini, dan kalau bisa setiap tahun, selama Engkau berikan kepadaku kemudahan, kesehatan, dan kelapangan rezeki. Dan jangan sampai tidak menjenguk tempat-tempat yang mulia. Dan janganlah kami tidak diberi kesempatan untuk berziarah ke kuburan Nabi-Mu SAW. Jadikanlah dalam apa yang Kau tetapkan pada Laylatul Qadar, berupa Qadar yang tka bisa diubah atau diganti. Tuliskanlah kami, diantara orang-orang berhaji ke Rumah-Mu yang suci, yang hajinya mabrur, yang sa’inya masykur, yang diampuni dosa-dosanya, yang dihapuskan kesalahan-kesalahannya.”

Itulah do’a yang mesti kita mohonkan kepada Allah SWT. Kalau kita ingin naik haji. Kalau do’a itu kita baca, lalu kita meninggal dunia sebelum sempat naik haji, dan be,um sempat berziarah ketanah suci. Do’a itu adalah penghibur bagi kita yang ditinggalkan yang belum dapat menunaikan ibadah haji.