Rabu, 30 Mei 2012

Foto 4 x 6 di Saku Bajumu Nak…

 Seperti hari-hari kemarin,Tetap saja ada perasaan sedih yang menghantui relung hati
Hamzah. Ayah berumur 29 tahun itu terlihat sering murung. Sedihnya Hamzah, bukan karena
persoalan besar, bukan  juga permasalahan ekonomi keluarga. Namun, kesedihannya karena

satu  pertanyaan  yang  dilontarkan  pemateri  ketika  mengikuti  acara  Smart  Parenting.
”Bagaimana  caranya  untuk  mengetahui  kalo  anak  berumur  1-5  tahun  menyayangi  orangtuannya” ? Ya, pertanyaan itulah yang manjadi beban pikiran dirinya saat ini. Meskipun jugaHamzah  mengakui  kalo  dirinya  bukanlah  ayah  yang  baik.  Marah  adalah  hal  yang  wajarterjadi.  Namun,  marah  ketika  terlihat  oleh  anak  berusia  2  tahun  adalah  perkara  yangberbahaya untuk perkembangan emosionalnya. Dan Hamzah mengakui hal itu. Mulai hari ituia bertekad untuk menjadi ayah yang lebih baik lagi untuk anaknya.Mulai  saat  itu,  setiap hari Hamzah pulang kantor dengan  tergesa-gesa. Sebab hanya satu  tujuannya.  Bagaimana  mendapatkan  jawaban  dari  Ridwan  anaknya  !  Bermain  dan bercengkerama  dengan  anaknya  lebih  lama  adalah  solusi  yang  tepat  untuk  mendapatkan jawaban kata ”Iya”. Hari itu Hamzah membeli bola berukuran besar. Lebih besar dari ukuran tubuh  Ridwan.  Mereka  bermain  lebih  lama.  Hamzah  rela  menjadi  penjaga  gawang  yang berpura-pura  jatuh  ketika  menangkap  bola.  Dan  itu  terjadi  berulang-ulang  hingga mengundang  tawa Ridwan. Hingga mereka  letih bermain. Hamzah mengajak Ridwan duduk sebentar.  Hamzah  mengambikan  segelas  air  minum  yang  akan  diminum  berdua.  Pikiran Hamzah,  Ini saat yang  tepat menanyakannya. ”Nak, Ridwan sayang sama abi ga ?” Kali  ini Ridwan  menatap  wajah  Hamzah.  Hamzah  menanti…..tiba-tiba  Ridwan  berkata  ”Abi,  ayo main bola lagi !…. Hamzah terdiam, mungkin pertanyaan itu ditanyakan ketika suasana tidak tepat pikirnya.
Malam  harinya, Hamzah membacakan  buku  ”Akhlaq  Islami”  kepada  anaknya. Kali
ini  Hamzah  membacanya  dengan  sabar  dan  lebih  lama  dari  biasanya. Malam  itu  9  buku dibacanya  sampai  habis.  Hingga  ketika  anaknya  terlihat  mengantuk,  Hamzah  berinisiatif untuk  menyeka  punggung  Ridwan.  Ketika  usapan  demi  usapan  dilakukannya,  terbesit keingginan  untuk  menanyakan  kepada  anaknya  ”Nak,  Ridwan  sayang  ka  sama  abi?”… Ridwan terdiam, ternyata Ridwan keburu tidur sebelum ditanya. Hmm….biarlah, mungkin ia letih  bermain  tadi  siang.  Sambil  mengusap  punggung,  dipandanginya  wajah  anaknya.
Hamzah berkata di telingga anaknya. ”Nak, maafkan abi jika ternyata abi bukanlah ayah yang baik untukmu. Hingga engkau sulit mengatakan kata ”Iya”. Tapi biarlah, abi akan berusaha menjadi ayah yang baik”. Malam pun berlalu, tanpa jawaban yang diimpikannya….
Sepulang  shalat  subuh, dompetnya berserakan! Ridwan  ternyata  telah bangun ketika
Hamzah  ke  masjid.  Foto  dan  tanda  pengenal  berceceran  kemana-mana.  Dengan  sabar Hamzah mengambilnya  dan memperbaikinya kembali. Hamzah berkata ke  anaknya”Jangan dibuka  dompet  abi  ya,  disini  banyak  tanda  pengenal  yang  penting.  Nanti  kalo  hilang bagaimana ? ” Ridwan mengangguk  tanda  setuju. ”Oke! Ayo kita  toss dulu” kata Hamzah.
Dan Ridwan pun mengangkat dan membuka jarinya untuk toss dan tersenyum.
”Ok  ummi,  ayo  berangkat”  kata  Hamzah.  Waktu  menunjukkan  pukul  06.50.
eh,ternyata Ridwan tak mau ganti baju. Bajunya yang dipake tidur tidak mau digantinya. Baju 49 bermotif mobil  traktor dengan saku di depan  itu  terlihat kumal. Tapi Ridwan  tetap  tak mau ganti baju. Bahkan sampai menangis ketika bajunya mau dilepas. Karena  takut  terlambat ke kantor, maka biarlah Ridwan tidak mandi dan tak mau ganti baju.
Sore  itu, Hamzah pulang  tak  lagi  tergesa-gesa. Toh Ridwan  tak menunjukkan  itikad
mengucapkan  kata-kata  ”Iya”  untuk  dirinya.  Maka  kali  ini  Hamzah  melakukan  aktifitas seperti  biasa. Menjemput Ridwan  di  rumah  nenek  yang  ternyata memakai  baju  yang  sama dengan  baju  tadi  pagi. Kata  nenek  ”Ridwan  ngak mau  ganti  baju,  dia  jingkar  ( Menangis hebat ) kalo bajunya mau dilepas” Malam  itu  Hamzah  tak  ingin  bermain  bola  bersama  anaknya.  Hamzah menggiring Ridwan  untuk  tidur  lebih  awal.  Maka  diiringilah  tidur  Ridwan  dengan  tilawah.Setelah terlelap  tidur. Hamzah meminta  istrinya  untuk mengganti  baju Ridwan  yang  kumal  karena
besok pagi giliran Hamzah yang mencuci baju. Sepulang  shalat  subuh,  Ridwan  belum  bangun.  Tumpukan  baju  satu  persatu dicucinya. Hingga tiba pada baju bermotif traktor Ridwan. Baju yang dipake seharian. Ketika mencuci, Hamzah menemukan  foto 4×6 dirinya di  saku baju Ridwan…Dan hal  itulah yang membuat Ridwan tersenyum dan berkata dalam hati ”Tak usahlah engkau berkata ”Iya” Nak. Abi sudah tahu jawabannya”…… Anak-anak Belajar Dari Kehidupannya jika anak dibesarkan dengan celaan, ia belajar memaki Jika anak dibesarkan dengan permusuhan ia belajar berkelahi
Jika anak dibesarkan dengan cemoohan ia belajar rendah diri
Jika anak dibesarkan dengan hinaan ia belajar menyesali diri
Jika anak dibesarkan toleransi ia belajar menahan diri
Jika anak dibesarkan dorongan ia belajar percaya diri
Jika anak dibesarkan pujian ia belajar menghargai
Jika anak dibesarkan sebaik-baik perlakuan ia belajar keadilan
Jika anak dibesarkan rasa aman ia belajar menaruh kepercayaan
Jika anak dibesarkan dukungan ia belajar menyenangi dirinya
Jika anak dibesarkan kasih sayang dan persahabatan ia belajar menemukan cinta dalam
kehidupannya (dorothy law nolie)
“Bukan  termasuk  umatku  orang  yang  tidak  menghormati  yang  tua  dan  tidak
menyayangi yang kecil ,” kata Rasulullah saw.
Ibnu Abbas  r.a.  berkata,  bahwa Rasulullah  Saw.  bersabda: “Ajarlah,  permudahlah
dan jangan persulit! Gembirakanlah dan jangan takut-takuti! Jika salah seorang dari kalian marah hendaklah berdiam diri!” (H.R. Ahmad dan Bukhari)
Rasulullah Saw bersabda: ’Barangsiapa yang mendapat ujian atau menderita karena
mengurus  anak-anaknya,  kemudian  ia  berbuat  baik  kepada  mereka,  maka  anak-anaknyaakan  menjadi  penghalang  baginya  dari  siksa  neraka.  (HR  Bukhari,  Muslim,  dan  At Turmudzi).
Penulis Muhammad Arafah, ST

Tidak ada komentar:

Posting Komentar