Tampilkan postingan dengan label Kisah penuh hikmah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kisah penuh hikmah. Tampilkan semua postingan

Kamis, 11 April 2013

Ahli Batu

Ahli Batu

Hiduplah seorang ahli batu yang sangat terkenal di China. Hasil karyanya
tersohor di segenap penjuru negeri. Batu-batu permata dan intan yang berkilauan itu dipajang menjadi perhiasan jemari dan kaki para raja. Hampir semua batu indah di dunia ini, pernah diolah tangannya. Giok, rubi, dan safir, terpajang di segenap sudut-sudut rumahnya.

Kamis, 21 Juni 2012

Kisah Wanita Yang Selalu Berbicara Dengan Bahasa Al-Qur’an

Semoga  Catatan  ini  bisa  menjadi  bahan  Renungan  Buat  Kita  Tentang Pentingnya menjaga Lidah Kita karena kelak semua yang keluar dari mulut kita akan dimintai pertangungjawaban Berkata Abdullah bin Mubarak Rahimahullahu Ta’ala : Saya  berangkat menunaikan Haji  ke  Baitullah Al-Haram,  lalu  berziarah  ke makam Rasulullah sallAllahu ‘alayhi wasallam. Ketika saya berada disuatu sudut jalan, tiba-tiba saya melihat  sesosok  tubuh berpakaian  yang dibuat dari bulu.  Ia  adalah  seorang  ibu  yang 
sudah tua. Saya berhenti sejenak seraya mengucapkan salam untuknya. Terjadilah dialog dengannya beberapa saat. Dalam dialog  tersebut wanita  tua  itu  , setiap kali menjawab pertanyaan Abdulah bin Mubarak,  dijawab  dengan menggunakan  ayat-ayat Al-Qur’an. Walaupun  jawabannya  tidak tepat  sekali,  akan  tetapi  cukup memuaskan,  karena  tidak  terlepas  dari  konteks  pertanyaan yang diajukan kepadanya.
Abdullah : “Assalamu’alaikum warahma wabarakaatuh.”
Wanita tua : “Salaamun qoulan min robbi rohiim.” (QS. Yaasin : 58) (artinya : “Salam
sebagai ucapan dari Tuhan Maha Kasih”)
Abdullah : “Semoga Allah merahmati anda, mengapa anda berada di tempat ini?”
Wanita tua : “Wa man yudhlilillahu fa la hadiyalahu.” (QS : Al-A’raf : 186 ) (“Barang siapa disesatkan Allah, maka tiada petunjuk baginya”)
Dengan jawaban ini, maka tahulah saya, bahwa ia tersesat jalan.
Abdullah : “Kemana anda hendak pergi?”
Wanita tua : “Subhanalladzi asra bi ‘abdihi lailan minal masjidil haraami ilal masjidil aqsa.” (QS. Al-Isra’ : 1) (“Maha suci Allah yang telah menjalankan hambanya di waktu malam dari masjid haram ke masjid aqsa”)
Dengan jawaban ini saya jadi mengerti bahwa ia sedang mengerjakan haji dan hendak menuju ke masjidil Aqsa.
Abdullah : “Sudah berapa lama anda berada di sini?”
Wanita tua : “Tsalatsa layaalin sawiyya” (QS. Maryam : 10) (“Selama tiga malam dalam keadaan sehat”)
Abdullah : “Apa yang anda makan selama dalam perjalanan?”
Wanita tua : “Huwa yut’imuni wa yasqiin.” (QS. As-syu’ara’ : 79) (“Dialah pemberi aku makan dan minum”)
Abdullah : “Dengan apa anda melakukan wudhu?”
Wanita tua : “Fa in lam tajidu maa-an fatayammamu sha’idan thoyyiban” (QS. Al-Maidah :6) (“Bila tidak ada air bertayamum dengan tanah yang bersih”)
Abdulah : “Saya mempunyai sedikit makanan, apakah anda mau menikmatinya?”
Wanita tua : “Tsumma atimmus shiyaama ilallaiil.” (QS. Al-Baqarah : 187) (“Kemudian sempurnakanlah puasamu sampai malam”)
Abdullah : “Sekarang bukan bulan Ramadhan, mengapa anda berpuasa?”
Wanita tua : “Wa man tathawwa’a khairon fa innallaaha syaakirun ‘aliim.” (QS. Al-Baqarah:158) (“Barang siapa melakukan sunnah lebih baik”)
Abdullah : “Bukankah diperbolehkan berbuka ketika musafir?”
Wanita tua : “Wa an tashuumuu khoirun lakum in kuntum ta’lamuun.” (QS. Al-Baqarah : 184) (“Dan jika kamu puasa itu lebih utama, jika kamu mengetahui”)
Abdullah : “Mengapa anda tidak menjawab sesuai dengan pertanyaan saya?”
Wanita tua : “Maa yalfidhu min qoulin illa ladaihi roqiibun ‘atiid.” (QS. Qaf : 18) (“Tiada
satu ucapan yang diucapkan, kecuali padanya ada Raqib Atid”)
Abdullah : “Anda termasuk jenis manusia yang manakah, hingga bersikap seperti itu?”
Wanita tua : “Wa la taqfu ma laisa bihi ilmun. Inna sam’a wal bashoro wal fuaada, kullu
ulaaika kaana ‘anhu mas’ula.” (QS. Al-Isra’ : 36) (“Jangan kamu ikuti apa yang tidak kamu
ketahui, karena pendengaran, penglihatan dan hati, semua akan dipertanggung jawabkan”)
Abdullah : “Saya telah berbuat salah, maafkan saya.”
Wanita tua : “Laa tastriiba ‘alaikumul yauum, yaghfirullahu lakum.” (QS.Yusuf : 92) (“Pada hari ini tidak ada cercaan untuk kamu, Allah telah mengampuni kamu”)
Abdullah : “Bolehkah saya mengangkatmu untuk naik ke atas untaku ini untuk melanjutkan
perjalanan, karena anda akan menjumpai kafilah yang di depan.”
Wanita tua : “Wa maa taf’alu min khoirin ya’lamhullah.” (QS Al-Baqoroh : 197) (“Barang
siapa mengerjakan suatu kebaikan, Allah mengetahuinya”)
Lalu wanita tua ini berpaling dari untaku, sambil berkata :
Wanita tua : “Qul lil mu’miniina yaghdudhu min abshoorihim.” (QS. An-Nur : 30) (“Katakanlah pada orang-orang mukminin tundukkan pandangan mereka”)
Maka saya pun memejamkan pandangan saya, sambil mempersilahkan ia mengendarai untaku. Tetapi tiba-tiba terdengar sobekan pakaiannya, karena unta itu terlalu tinggi baginya.
Wanita itu berucap lagi.
Wanita tua : “Wa maa ashobakum min mushibatin fa bimaa kasabat aidiikum.” (QS. Asy-
Syura’ 30) (“Apa saja yang menimpa kamu disebabkan perbuatanmu sendiri”)
Abdullah : “Sabarlah sebentar, saya akan mengikatnya terlebih dahulu.”
Wanita tua : “Fa fahhamnaaha sulaiman.” (QS. Anbiya’ 79) (“Maka kami telah memberi
pemahaman pada nabi Sulaiman”)
Selesai mengikat unta itu saya pun mempersilahkan wanita tua itu naik.
Abdullah : “Silahkan naik sekarang.”
Wanita tua : “Subhaanalladzi sakhkhoro lana hadza wa ma kunna lahu muqriniin, wa inna ila robbinaa munqolibuun.” (QS. Az-Zukhruf : 13-14) (“Maha suci Tuhan yang telah menundukkan semua ini pada kami sebelumnya tidak mampu menguasainya. Sesungguhnya
kami akan kembali pada tuhan kami”)
Saya pun segera memegang tali unta itu dan melarikannya dengan sangat kencang. Wanita
tua itu berkata lagi.
Wanita tua : “Waqshid fi masyika waghdud min shoutik” (QS. Lukman : 19) (“Sederhanakan jalanmu dan lunakkanlah suaramu”)
Lalu jalannya unta itu saya perlambat, sambil mendendangkan beberapa syair, Wanita tua itu berucap.
Wanita tua : “Faqraa-u maa tayassara minal qur’aan” (QS. Al- Muzammil : 20) (“Bacalah
apa-apa yang mudah dari Al-Qur’an”)
Abdullah : “Sungguh anda telah diberi kebaikan yang banyak.”
Wanita tua : “Wa maa yadzdzakkaru illa uulul albaab.” (QS Al-Baqoroh : 269) (“Dan tidaklah mengingat Allah itu kecuali orang yang berilmu”)
Dalam perjalanan itu saya bertanya kepadanya.
Abdullah : “Apakah anda mempunyai suami?”
Wanita tua : “Laa tas-alu ‘an asy ya-a in tubda lakum tasu’kum” (QS. Al-Maidah : 101)
(“Jangan kamu menanyakan sesuatu, jika itu akan menyusahkanmu”)
Ketika berjumpa dengan kafilah di depan kami, saya bertanya kepadanya.
Abdullah : “Adakah orang anda berada dalam kafilah itu?”
Wanita tua : “Al-maalu wal banuuna zinatul hayatid dunya.” (QS. Al-Kahfi : 46) (“Adapun
harta dan anak-anak adalah perhiasan hidup di dunia”)
Baru saya mengerti bahwa ia juga mempunyai anak.
Abdullah : “Bagaimana keadaan mereka dalam perjalanan ini?”
Wanita tua : “Wa alaamatin wabin najmi hum yahtaduun” (QS. An-Nahl : 16) (“Dengan tanda bintang-bintang mereka mengetahui petunjuk”)
Dari  jawaban  ini  dapat  saya  fahami  bahwa mereka  datang mengerjakan  ibadah  haji
mengikuti beberapa petunjuk. Kemudian bersama wanita tua ini saya menuju perkemahan.
Abdullah : “Adakah orang yang akan kenal atau keluarga dalam kemah ini?”
Wanita tua : “Wattakhodzallahu ibrohima khalilan” (QS. An-Nisa’ : 125) (“Kami jadikan
ibrahim itu sebagai yang dikasihi”) “Wakallamahu musa takliima” (QS. An-Nisa’ : 146)
(“Dan Allah berkata-kata kepada Musa”) “Ya yahya khudil kitaaba biquwwah” (QS. Maryam : 12) (“Wahai Yahya pelajarilah alkitab itu sungguh-sungguh”)
Lalu  saya memanggil  nama-nama,  ya  Ibrahim,  ya Musa,  ya Yahya, maka  keluarlah
anak-anak muda yang bernama tersebut. Wajah mereka tampan dan ceria, seperti bulan yang baru muncul. Setelah tiga anak ini datang dan duduk dengan tenang maka berkatalah wanita itu.

Wanita tua : “Fab’atsu ahadaku bi warikikum hadzihi ilal madiinati falyandzur ayyuha azkaa tho’aaman fal ya’tikum bi rizkin minhu.” (QS. Al-Kahfi : 19) (“Maka suruhlah salah seorang dari kamu pergi ke kota dengan membawa uang perak ini, dan carilah makanan yang lebih baik agar ia membawa makanan itu untukmu”)
Maka  salah  seorang  dari  tiga  anak  ini  pergi  untuk  membeli  makanan,  lalu menghidangkan di hadapanku, lalu perempuan tua itu berkata :
Wanita tua : “Kuluu wasyrobuu hanii’an bima aslaftum fil ayyamil kholiyah” (QS. Al-
Haqqah : 24) (“Makan dan minumlah kamu dengan sedap, sebab amal-amal yang telah kamu
kerjakan di hari-hari yang telah lalu”)
Abdullah  : “Makanlah kalian semuanya makanan  ini. Aku belum akan memakannya sebelum kalian mengatakan padaku siapakah perempuan ini sebenarnya.”
Ketiga anak muda ini secara serempak berkata :
“Beliau  adalah  orang  tua  kami.  Selama  empat  puluh  tahun  beliau  hanya  berbicara
mempergunakan ayat-ayat Al-Qur’an, hanya karena khawatir salah bicara.”
Maha  suci  zat  yang  maha  kuasa  terhadap  sesuatu  yang  dikehendakinya.  Akhirnya
saya pun berucap :
“Fadhluhu yu’tihi man yasyaa’ Wallaahu dzul fadhlil adhiim.” (QS. Al-Hadid : 21)
(“Karunia Allah yang diberikan kepada orang yang dikehendakinya, Allah adalah pemberi karunia yang besar”)

Rabu, 20 Juni 2012

Kisah Sebuah Pernikahan

“Sedikit Renungan cerita buat kita yang banyak hikmahnya jika kita mau mengkajinya” Hari pernikahanku. Hari yang paling bersejarah dalam hidup. Seharusnya saat itu aku menjadi  makhluk  yang  paling  berbahagia.  Tapi  yang  aku  rasakan  justru  rasa  haru  biru. Betapa  tidak. Di  hari  bersejarah  ini  tak  ada  satu  pun  sanak  saudara  yang menemaniku  ke tempat  mempelai  wanita.  Apalagi  ibu.  Beliau  yang  paling  keras  menentang perkawinanku.Masih kuingat betul perkataan ibu tempo hari, “Jadi juga kau nikah sama buntelan karung hitam’ itu ….?!?” Duh……, hatiku sempat kebat-kebit mendengar ucapan itu. Masa calon istriku disebut ‘buntelan karung hitam’. “Kamu sudah kena pelet barangkali Yanto. Masa suka sih sama gadis hitam, gendut dengan wajah yang sama sekali tak menarik dan cacat kakinya. Lebih tua beberapa tahun lagi dibanding kamu !!” sambung ibu lagi. “Cukup  Bu!  Cukup!  Tak  usah  ibu  menghina  sekasar  itu.  Dia  kan  ciptaan  Allah. Bagaimana  jika pencipta-Nya marah  sama  ibu…?” Kali  ini aku  terpaksa menimpali ucapan ibu dengan sedikit emosi. Rupanya ibu amat tersinggung mendengar ucapanku. “Oh….  rupanya  kau  lebih memillih  perempuan  itu  ketimbang  keluargamu.  baiklah Yanto. Silahkan kau menikah tapi jangan harap kau akan dapatkan seorang dari kami ada di tempatmu saat itu. Dan jangan kau bawa perempuan itu ke rumah ini !!” DEGG !!!! “Yanto….  jangan  bengong  terus.  Sebentar  lagi  penghulu  tiba,”  teguran  Ismail membuyarkan lamunanku. Segera kuucapkan istighfar dalam hati. “Alhamdulillah penghulu sudah  tiba. Bersiaplah …akhi,” sekali  lagi  Ismail memberi semangat padaku. “Aku terima  nikahnya,  kawinnya  Shalihah  binti  Mahmud  almarhum  dengan  mas kawin  seperangkat  alat  sholat  tunai  !”  Alhamdulillah  lancar  juga  aku  mengucapkan  aqad nikah. “Ya  Allah  hari  ini  telah  Engkau  izinkan  aku  untuk  meraih  setengah  dien. Mudahkanlah aku untuk meraih sebagian yang lain.”
Di kamar yang amat sederhana. Di atas dipan kayu ini aku tertegun lama. Memandangi istriku yang  tengah  tertunduk  larut dalam dan diam. Setelah  sekian  lama kami  saling diam, akhirnya dengan membaca basmalah dalam hati kuberanikan diri untuk menyapanya. “Assalamu’alaikum ….  permintaan  hafalan  Qur’annya  mau  di  cek  kapan  De’…?” tanyaku  sambil  memandangi  wajahnya  yang  sejak  tadi  disembunyikan  dalam  tunduknya.

Sebelum menikah,  istriku memang pernah meminta malam pertama hingga ke sepuluh agar
aku membacakan hafalan Qur’an  tiap malam satu  juz. Dan permintaan  itu  telah aku setujui. “Nanti  saja  dalam  qiyamullail,”  jawab  istriku,  masih  dalam  tunduknya.  Wajahnya  yang berbalut  kerudung  putih,  ia  sembunyikan  dalam-dalam.  Saat  kuangkat  dagunya,  ia  seperti ingin  menolak.  Namun  ketika  aku  beri  isyarat  bahwa  aku  suaminya  dan  berhak  untuk melakukan itu , ia menyerah. Kini  aku  tertegun  lama.  Benar  kata  ibu  ..bahwa  wajah  istriku  ‘tidak  menarik’. Sekelebat pikiran itu muncul ….dan segera aku mengusirnya. Matanya berkaca-kaca menatap lekat pada bola mataku.
“Bang,  sudah  saya  katakan  sejak  awal  ta’aruf,  bahwa  fisik  saya  seperti  ini.  Kalau Abang  kecewa,  saya  siap  dan  ikhlas. Namun  bila Abang  tidak menyesal  beristrikan saya, mudah-mudahan  Allah  memberikan  keberkahan  yang  banyak  untuk  Abang. Seperti keberkahan  yang  Allah  limpahkan  kepada  Ayahnya  Imam  malik  yang  ikhlas menerima sesuatu yang tidak ia sukai pada istrinya. Saya ingin mengingatkan Abang akan firman Allah yang  dibacakan  ibunya  Imam  Malik  pada  suaminya  pada  malam pertama  pernikahan mereka,” … Dan bergaullah dengan mereka (istrimu) dengat patut (ahsan). Kemudian bila kamu tidak menyukai mereka, (maka bersabarlah) karena mungkin kamu tidak menyukai sesuatu, padahal Allah menjanjikan padanya kebaikan yang banyak.”(QS An-Nisa:19)
Mendengar tutur istriku, kupandangi wajahnya yang penuh dengan air mata itu lekat-lekat. Aku  teringat kisah suami yang  rela menikahi seorang wanita yang memiliki cacat  itu. Dari  rahim wanita  itulah  lahir  Imam Malik, ulama besar ummat  Islam yang namanya abadi dalam sejarah. “Ya Rabbi aku menikahinya karena Mu. Maka turunkanlah rasa cinta dan kasih sayang milikMu pada hatiku untuknya. Agar aku dapat mencintai dan menyayanginya dengan segenap hati yang ikhlas.” Pelan  kudekati  istriku.  Lalu  dengan  bergetar,  kurengkuh  tubuhya  dalam  dekapku.
Sementara, istriku menangis tergugu dalam wajah yang masih menyisakan segumpal ragu.
“Jangan memaksakan  diri  untuk  ikhlas menerima  saya, Bang. Sungguh…  saya  siap menerima keputusan apapun yang terburuk,” ucapnya lagi. “Tidak…De’.  Sungguh  sejak  awal  niat  Abang  menikahimu  karena  Allah.  Sudah teramat bulat niat itu. Hingga Abang tidak menghiraukan ketika seluruh keluarga memboikot untuk tak datang tadi pagi,” paparku sambil menggenggam erat tangannya. Malam  telah  naik  ke  puncaknya  pelan-pelan.  Dalam  lengangnya  bait-bait  do’a kubentangkan pada Nya.
“Robbi, tak dapat kupungkiri bahwa kecantikan wanita dapat mendatangkan cinta buat laki-laki. Namun telah kutepis memilih istri karena rupa yang cantik karena aku ingin mendapatkan cinta-Mu. Robbi saksikanlah malam ini akan kubuktikan bahwa cinta sejatiku hanya akan kupasrahkan pada-Mu. Karena itu, pertemukanlah aku dengan-Mu dalam Jannah-Mu !”
Aku beringsut menuju pembaringan yang amat sederhana itu. Lalu kutatap raut wajah istriku  denan  segenap  hati  yang  ikhlas.  Ah,  ..  sekarang  aku  benar-benar mencintainya. Kenapa  tidak?  Bukankah  ia  wanita  sholihah  sejati.  Ia  senantiasa menegakkan  malam-malamnya dengan munajat panjang pada-Nya. Ia senantiasa menjaga hafalan KitabNya. Dan senantiasa melaksanakan shoum sunnah Rasul Nya.
“…dan  diantara  manusia  ada  orang-orang  yang  menyembah  tandingan-tandingan  selain  Allah. Mereka mencintainya  sebagaimana mereka mencintai  Allah. Adapun  orang-orang  yang  beriman  amat  sangat  cintanya  pada  Allah  …” 
 (QS.  al-Baqarah:165)

Tangisan Rasulullah Menggoncangkan Arsy

Dikisahkan, bahwasanya di waktu Rasulullah s.a.w. sedang asyik bertawaf di Ka’bah, beliau  mendengar  seseorang  di  hadapannya  bertawaf,  sambil  berzikir:  “Ya  Karim!  Ya Karim!” Rasulullah  s.a.w.  menirunya  membaca  “Ya  Karim!  Ya  Karim!”  Orang  itu  Ialu berhenti  di  salah  satu  sudut Ka’bah,  dan  berzikir  lagi:  “Ya Karim! Ya Karim!” Rasulullah s.a.w. yang berada di belakangnya mengikut zikirnya “Ya Karim! Ya Karim!” Merasa seperti diolok-olokkan, orang  itu menoleh ke belakang  dan  terlihat olehnya  seorang  laki-laki  yang gagah, lagi tampan yang belum pernah dikenalinya. Orang itu Ialu berkata:
“Wahai  orang  tampan!  Apakah  engkau  memang  sengaja  memperolok-olokkanku, karena  aku  ini  adalah  orang  Arab  badwi?  Kalaulah  bukan  kerana  ketampananmu  dan kegagahanmu, pasti engkau akan aku laporkan kepada kekasihku, Muhammad Rasulullah.” Mendengar  kata-kata  orang  badwi  itu,  Rasulullah  s.a.w.  tersenyum,  lalu  bertanya:
“Tidakkah engkau mengenali Nabimu, wahai orang Arab?” “Belum,”  jawab orang  itu. “Jadi
bagaimana kau beriman kepadanya?” “Saya  percaya  dengan  mantap  atas  kenabiannya,  sekalipun  saya  belum  pernah melihatnya,  dan  membenarkan  perutusannya,  sekalipun  saya  belum  pernah  bertemu dengannya,” kata orang Arab badwi itu pula.
Rasulullah s.a.w. pun berkata kepadanya: “Wahai orang Arab! Ketahuilah aku  inilah Nabimu  di  dunia  dan  penolongmu  nanti  di  akhirat!”  Melihat  Nabi  di  hadapannya,  dia tercengang, seperti tidak percaya kepada dirinya. “Tuan  ini  Nabi  Muhammad?!”  “Ya”  jawab  Nabi  s.a.w.  Dia  segera  tunduk  untuk mencium kedua kaki Rasulullah s.a.w. Melihat hal itu, Rasulullah s.a.w. menarik tubuh orang Arab itu, seraya berkata  kepadanya:
“Wahal  orang  Arab!  janganlah  berbuat  serupa  itu.  Perbuatan  seperti  itu  biasanya dilakukan oleh hamba sahaya kepada juragannya, Ketahuilah, Allah mengutusku bukan untuk menjadi  seorang  yang  takabbur  yang  meminta  dihormati,  atau  diagungkan, tetapi  demi membawa berita. Ketika  itulah, Malaikat Jibril a.s.  turun membawa berita dari  langit dia berkata: “Ya Muhammad!  Tuhan  As-Salam  mengucapkan  salam  kepadamu  dan  bersabda:  “Katakanlah kepada orang Arab itu, agar dia tidak terpesona dengan belas kasih Allah. Ketahuilah bahawa Allah  akan menghisabnya  di  hari Mahsyar  nanti,  akan menimbang  semua  amalannya,  baik yang  kecil maupun  yang  besar!” Setelah menyampaikan  berita  itu,  Jibril  kemudian  pergi. Maka orang Arab itu pula berkata:
“Demi keagungan serta kemuliaan Tuhan, jika Tuhan akan membuat perhitungan atas amalan hamba, maka hamba pun akan membuat perhitungan dengannya!” kata orang Arab badwi itu. “Apakah yang akan engkau perhitungkan dengan Tuhan?” Rasulullah bertanya  kepadanya.  ‘Jika  Tuhan  akan  memperhitungkan  dosa-dosa  hamba,  maka 5  hamba  akan  memperhitungkan  betapa  kebesaran  maghfirahnya,’  jawab  orang  itu.
‘Jika  Dia  memperhitungkan  kemaksiatan  hamba,  maka  hamba  akan memperhitungkan  betapa  keluasan  pengampunan-Nya.  Jika  Dia  memperhitungkan kekikiran  hamba,  maka  hamba  akan  memperhitungkan  pula  betapa kedermawanannya!’
Mendengar  ucapan  orang  Arab  badwi  itu,  maka  Rasulullah  s.a.w.  pun  menangis mengingatkan  betapa  benarnya  kata-kata  orang  Arab  badwi  itu,  air  mata  beliau  meleleh membasahi Janggutnya. Lantaran itu Malaikat Jibril turun lagi seraya berkata:
“Ya Muhammad!  Tuhan As-Salam menyampaikan  salam  kepadamu,  dan  bersabda:
Berhentilah engkau dari menangis! Sesungguhnya karena  tangismu, penjaga Arasy  lupa dari bacaan  tasbih dan  tahmidnya, sehingga  la bergoncang. Katakan kepada  temanmu  itu, bahwa Allah  tidak  akan  menghisab  dirinya,  juga  tidak  akan  memperhitungkan  kemaksiatannya.
Allah  sudah  rnengampuni  semua  kesalahannya  dan  la  akan  menjadi  temanmu  di  syurga nanti!” Betapa  sukanya orang Arab badwi  itu,  mendengar berita  tersebut.  la  Ialu menangis karena tidak berdaya menahan keharuan dirinya.

Rabu, 30 Mei 2012

Foto 4 x 6 di Saku Bajumu Nak…

 Seperti hari-hari kemarin,Tetap saja ada perasaan sedih yang menghantui relung hati
Hamzah. Ayah berumur 29 tahun itu terlihat sering murung. Sedihnya Hamzah, bukan karena
persoalan besar, bukan  juga permasalahan ekonomi keluarga. Namun, kesedihannya karena

satu  pertanyaan  yang  dilontarkan  pemateri  ketika  mengikuti  acara  Smart  Parenting.
”Bagaimana  caranya  untuk  mengetahui  kalo  anak  berumur  1-5  tahun  menyayangi  orangtuannya” ? Ya, pertanyaan itulah yang manjadi beban pikiran dirinya saat ini. Meskipun jugaHamzah  mengakui  kalo  dirinya  bukanlah  ayah  yang  baik.  Marah  adalah  hal  yang  wajarterjadi.  Namun,  marah  ketika  terlihat  oleh  anak  berusia  2  tahun  adalah  perkara  yangberbahaya untuk perkembangan emosionalnya. Dan Hamzah mengakui hal itu. Mulai hari ituia bertekad untuk menjadi ayah yang lebih baik lagi untuk anaknya.Mulai  saat  itu,  setiap hari Hamzah pulang kantor dengan  tergesa-gesa. Sebab hanya satu  tujuannya.  Bagaimana  mendapatkan  jawaban  dari  Ridwan  anaknya  !  Bermain  dan bercengkerama  dengan  anaknya  lebih  lama  adalah  solusi  yang  tepat  untuk  mendapatkan jawaban kata ”Iya”. Hari itu Hamzah membeli bola berukuran besar. Lebih besar dari ukuran tubuh  Ridwan.  Mereka  bermain  lebih  lama.  Hamzah  rela  menjadi  penjaga  gawang  yang berpura-pura  jatuh  ketika  menangkap  bola.  Dan  itu  terjadi  berulang-ulang  hingga mengundang  tawa Ridwan. Hingga mereka  letih bermain. Hamzah mengajak Ridwan duduk sebentar.  Hamzah  mengambikan  segelas  air  minum  yang  akan  diminum  berdua.  Pikiran Hamzah,  Ini saat yang  tepat menanyakannya. ”Nak, Ridwan sayang sama abi ga ?” Kali  ini Ridwan  menatap  wajah  Hamzah.  Hamzah  menanti…..tiba-tiba  Ridwan  berkata  ”Abi,  ayo main bola lagi !…. Hamzah terdiam, mungkin pertanyaan itu ditanyakan ketika suasana tidak tepat pikirnya.
Malam  harinya, Hamzah membacakan  buku  ”Akhlaq  Islami”  kepada  anaknya. Kali
ini  Hamzah  membacanya  dengan  sabar  dan  lebih  lama  dari  biasanya. Malam  itu  9  buku dibacanya  sampai  habis.  Hingga  ketika  anaknya  terlihat  mengantuk,  Hamzah  berinisiatif untuk  menyeka  punggung  Ridwan.  Ketika  usapan  demi  usapan  dilakukannya,  terbesit keingginan  untuk  menanyakan  kepada  anaknya  ”Nak,  Ridwan  sayang  ka  sama  abi?”… Ridwan terdiam, ternyata Ridwan keburu tidur sebelum ditanya. Hmm….biarlah, mungkin ia letih  bermain  tadi  siang.  Sambil  mengusap  punggung,  dipandanginya  wajah  anaknya.
Hamzah berkata di telingga anaknya. ”Nak, maafkan abi jika ternyata abi bukanlah ayah yang baik untukmu. Hingga engkau sulit mengatakan kata ”Iya”. Tapi biarlah, abi akan berusaha menjadi ayah yang baik”. Malam pun berlalu, tanpa jawaban yang diimpikannya….
Sepulang  shalat  subuh, dompetnya berserakan! Ridwan  ternyata  telah bangun ketika
Hamzah  ke  masjid.  Foto  dan  tanda  pengenal  berceceran  kemana-mana.  Dengan  sabar Hamzah mengambilnya  dan memperbaikinya kembali. Hamzah berkata ke  anaknya”Jangan dibuka  dompet  abi  ya,  disini  banyak  tanda  pengenal  yang  penting.  Nanti  kalo  hilang bagaimana ? ” Ridwan mengangguk  tanda  setuju. ”Oke! Ayo kita  toss dulu” kata Hamzah.
Dan Ridwan pun mengangkat dan membuka jarinya untuk toss dan tersenyum.
”Ok  ummi,  ayo  berangkat”  kata  Hamzah.  Waktu  menunjukkan  pukul  06.50.
eh,ternyata Ridwan tak mau ganti baju. Bajunya yang dipake tidur tidak mau digantinya. Baju 49 bermotif mobil  traktor dengan saku di depan  itu  terlihat kumal. Tapi Ridwan  tetap  tak mau ganti baju. Bahkan sampai menangis ketika bajunya mau dilepas. Karena  takut  terlambat ke kantor, maka biarlah Ridwan tidak mandi dan tak mau ganti baju.
Sore  itu, Hamzah pulang  tak  lagi  tergesa-gesa. Toh Ridwan  tak menunjukkan  itikad
mengucapkan  kata-kata  ”Iya”  untuk  dirinya.  Maka  kali  ini  Hamzah  melakukan  aktifitas seperti  biasa. Menjemput Ridwan  di  rumah  nenek  yang  ternyata memakai  baju  yang  sama dengan  baju  tadi  pagi. Kata  nenek  ”Ridwan  ngak mau  ganti  baju,  dia  jingkar  ( Menangis hebat ) kalo bajunya mau dilepas” Malam  itu  Hamzah  tak  ingin  bermain  bola  bersama  anaknya.  Hamzah menggiring Ridwan  untuk  tidur  lebih  awal.  Maka  diiringilah  tidur  Ridwan  dengan  tilawah.Setelah terlelap  tidur. Hamzah meminta  istrinya  untuk mengganti  baju Ridwan  yang  kumal  karena
besok pagi giliran Hamzah yang mencuci baju. Sepulang  shalat  subuh,  Ridwan  belum  bangun.  Tumpukan  baju  satu  persatu dicucinya. Hingga tiba pada baju bermotif traktor Ridwan. Baju yang dipake seharian. Ketika mencuci, Hamzah menemukan  foto 4×6 dirinya di  saku baju Ridwan…Dan hal  itulah yang membuat Ridwan tersenyum dan berkata dalam hati ”Tak usahlah engkau berkata ”Iya” Nak. Abi sudah tahu jawabannya”…… Anak-anak Belajar Dari Kehidupannya jika anak dibesarkan dengan celaan, ia belajar memaki Jika anak dibesarkan dengan permusuhan ia belajar berkelahi
Jika anak dibesarkan dengan cemoohan ia belajar rendah diri
Jika anak dibesarkan dengan hinaan ia belajar menyesali diri
Jika anak dibesarkan toleransi ia belajar menahan diri
Jika anak dibesarkan dorongan ia belajar percaya diri
Jika anak dibesarkan pujian ia belajar menghargai
Jika anak dibesarkan sebaik-baik perlakuan ia belajar keadilan
Jika anak dibesarkan rasa aman ia belajar menaruh kepercayaan
Jika anak dibesarkan dukungan ia belajar menyenangi dirinya
Jika anak dibesarkan kasih sayang dan persahabatan ia belajar menemukan cinta dalam
kehidupannya (dorothy law nolie)
“Bukan  termasuk  umatku  orang  yang  tidak  menghormati  yang  tua  dan  tidak
menyayangi yang kecil ,” kata Rasulullah saw.
Ibnu Abbas  r.a.  berkata,  bahwa Rasulullah  Saw.  bersabda: “Ajarlah,  permudahlah
dan jangan persulit! Gembirakanlah dan jangan takut-takuti! Jika salah seorang dari kalian marah hendaklah berdiam diri!” (H.R. Ahmad dan Bukhari)
Rasulullah Saw bersabda: ’Barangsiapa yang mendapat ujian atau menderita karena
mengurus  anak-anaknya,  kemudian  ia  berbuat  baik  kepada  mereka,  maka  anak-anaknyaakan  menjadi  penghalang  baginya  dari  siksa  neraka.  (HR  Bukhari,  Muslim,  dan  At Turmudzi).
Penulis Muhammad Arafah, ST

BELUM HAJI SUDAH MABRUR

Ini kisah tentang Yu Timah. Siapakah dia? Yu Timah adalah tetangga kami. Dia salah seorang  penerima  program  Subsidi  Langsung  Tunai  (SLT)  yang  kini  sudah  berakhir.  Yu Timah  adalah penerima SLT  yang  sebenarnya. Maka  rumahnya berlantai  tanah, berdinding anyaman  bambu,  tak  punya  sumur  sendiri. Bahkan  status  tanah  yang  di  tempati  gubuk Yu Timah adalah bukan milik sendiri.
Usia Yu Timah sekitar lima puluhan, berbadan kurus dan tidak menikah. Dia sebatang
kara.  Dulu  setelah  remaja  Yu  Timah  bekerja  sebagai  pembantu  rumah  tangga  di  Jakarta.
Namun,  seiring  usianya  yang  terus  meningkat,  tenaga  Yu  Timah  tidak  laku  di  pasaran pembantu  rumah  tangga. Dia  kembali  ke  kampung  kami.  Para  tetangga  bergotong  royong membuatkan  gubuk  buat Yu Timah  bersama  emaknya  yang  sudah  sangat  renta. Gubuk  itu didirikan  di  atas  tanah  tetangga  yang  bersedia  menampung  anak  dan  emak  yang  sangat miskin itu. Meski  hidupnya  sangat  miskin,  Yu  Timah  ingin  mandiri.  Maka  ia  berjualan  nasi bungkus.  Pembeli  tetapnya  adalah  para  santri  yang  sedang mondok  di  pesantren  kampung kami. Tentu  hasilnya  tak  seberapa. Tapi Yu Timah  bertahan. Dan  nyatanya  dia  bisa  hidup bertahun-tahun.
Kemarin Yu Timah datang ke rumah saya. Saya sudah mengira pasti dia mau bicara
soal  tabungan.  Inilah  hebatnya.  Semiskin  itu  Yu  Timah  masih  bisa  menabung  di  bank perkreditan rakyat syariah di mana saya ikut jadi pengurus. Tapi Yu Timah tidak pernah mau datang  ke  kantor.  Katanya,  malu  sebab  dia  orang  miskin  dan  buta  huruf.  Dia  menabung Rp5.000 atau Rp10 ribu setiap bulan. Namun setelah menjadi penerima SLT Yu Timah bisa setor tabungan hingga Rp 250 ribu. Dan Saldo terakhir Yu Timah adalah Rp 650 ribu. Yu  Timah  biasa  duduk  menjauh  bila  berhadapan  dengan  saya.  Malah  maunya bersimpuh di lantai, namun selalu saya cegah. ”Pak, saya mau mengambil tabungan,” kata Yu Timah dengan suaranya yang kecil. ”O, tentu bisa. Tapi ini hari Sabtu dan sudah sore. Bank kita sudah tutup. Bagaimana bila Senin?”
”Senin juga tidak apa-apa. Saya tidak buru-buru.”
”Mau ambil berapa?” tanya saya.
”Enam ratus ribu, Pak.”
”Kok banyak sekali. Untuk apa, Yu?”
Yu Timah  tidak  segera menjawab. Menunduk,  sambil  tersenyum malu-malu.  ”Saya
mau beli kambing kurban, Pak. Kalau enam ratus ribu saya  tambahi dengan uang saya yang
di tangan, cukup untuk beli satu kambing.” 40

Saya  tahu Yu Timah amat menunggu  tanggapan  saya. Bahkan dia mengulangi kata-
katanya  karena  saya masih  diam. Karena  lama  tidak memberikan  tanggapan, mungkin Yu Timah mengira  saya  tidak akan memberikan uang  tabungannya. Padahal  saya  lama  terdiam karena sangat terkesan oleh keinginan Yu Timah membeli kambing kurban.
”Iya, Yu. Senin besok uang Yu Timah akan diberikan sebesar enam  ratus  ribu. Tapi
Yu, sebenarnya kamu tidak wajib berkurban. Yu Timah bahkan wajib menerima kurban dari saudara-saudara kita yang lebih berada. Jadi, apakah niat Yu Timah benar-benar sudah bulat hendak membeli kambing kurban?” ”Iya Pak. Saya  sudah bulat. Saya benar-benar  ingin berkurban. Selama  ini memang saya hanya jadi penerima. Namun sekarang saya ingin jadi pemberi daging kurban.”
”Baik, Yu. Besok uang kamu akan saya ambilkan di bank kita.” Wajah Yu Timah  benderang.  Senyumnya  ceria. Matanya  berbinar.  Lalu minta  diri, dan  dengan  langkah-langkah  panjang  Yu  Timah  pulang.  Setelah  Yu  Timah  pergi,  saya termangu  sendiri.  Kapankah  Yu  Timah  mendengar,  mengerti,  menghayati,  lalu menginternalisasi  ajaran  kurban  yang  ditinggalkan  oleh  Kanjeng  Nabi  Ibrahim? Mengapa orang  yang  sangat  awam  itu  bisa  punya  keikhlasan  demikian  tinggi  sehingga  rela mengurbankan hampir seluruh hartanya? Pertanyaan ini muncul karena umumnya ibadah haji yang biayanya mahal itu tidak mengubah watak orangnya. Mungkin saya juga begitu.
Ah, Yu Timah, saya jadi malu. Kamu yang belum naik haji, atau tidak akan pernah naik haji,
namun kamu sudah jadi orang yang suka berkurban. Kamu sangat miskin, tapi uangmu tidak
kau  belikan  makanan,  televisi,  atau  pakaian  yang  bagus.  Uangmu  malah  kamu  belikan kambing kurban. Ya, Yu Timah. Meski saya dilarang dokter makan daging kambing, tapi kali ini  akan  saya  langgar.  Saya  ingin  menikmati  daging  kambingmu  yang  sepertinya  sudah berbau surga. Mudah-mudahan kamu mabrur sebelum kamu naik haji.

Oleh : Ahmad Tohari